Rumah Sangrai Kopi Nako, ”Melting Pot” Budaya Ngopi, Literasi, dan Edukasi Ekologi
Rumah Sangrai Kopi Nako di Kotabaru, Yogyakarta, resmi beroperasi pada Kamis (27/11/2025) dengan konsep yang langsung menarik perhatian: bangunannya memanfaatkan 3 ton limbah plastik yang diolah menjadi panel-panel dinding, atap, dan furnitur, memberikan sentuhan terakota dengan corak unik. Inisiati...
Sejumlah barista mulai sibuk dengan tugas masing-masing ketika penggemar minuman kopi mulai mengalir menuju sebuah bangunan nan unik di Rumah Sangrai Kopi Nako di kawasan Kotabaru, Yogyakarta, yang mulai beroperasi, Kamis (27/11/2025). Bangunan berstruktur besi baja tersebut memiliki dinding dan atap berwujud lempengan yang berwarna terakota dan corak yang tak seragam.
Panel-panel tersebut rupanya berasal dari limbah plastik yang dikumpulkan oleh Kopi Nako dan diolah agar dapat digunakan kembali. Menurut Direktur Utama PT Jendela Kuliner Bersama (Kopi Nako) Jayadi Budiman, pihaknya mengolah 3 ton sampah plastik untuk digunakan pada bangunan utama tempat peracikan kopi dan furnitur untuk tempat duduk konsumen di gerai ke-66 Kopi Nako itu.
Hasil daur ulang tersebut menjadi salah satu bukti implementasi bahwa limbah plastik dapat dimanfaatkan. Hal tersebut diapresiasi oleh Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo yang hadir untuk meresmikan tempat itu. Menurut dia, hal itu dapat turut menjadi daya tarik bagi Kota Yogyakarta yang menjadi salah satu destinasi wisata utama di Pulau Jawa.
Kehadiran Rumah Sangrai Kopi Nako yang berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman, kawasan Kotabaru di pusat Kota Yogyakarta, persis bersebelahan dengan Toko Buku Gramedia, itu turut menambah daftar panjang kedai kopi baru di Kota Yogyakarta. Pertumbuhan jumlah kedai kopi beberapa tahun terakhir menunjukkan geliat perekonomian di ibu kota DI Yogyakarta itu, sekaligus melengkapi atraksi dan amenitas Yogyakarta sebagai destinasi pariwisata.
Kehadiran tempat-tempat ngopi atau coffee shop menunjang ekosistem pariwisata di Kota Yogyakarta. ”Harapannya, adanya atraksi dan amenitas baru bisa menarik kunjungan wisatawan ke Yogyakarta,” ucap Hasto.
Rumah Sangrai Kopi Nako Yogyakarta merupakan hasil kerja sama Kopi Nako dan Kompas. Tempat yang buka selama 24 jam sehari tersebut merupakan gerai ke-66 Kopi Nako di seluruh Indonesia.
Gedung yang digunakan untuk tempat usaha Kopi Nako pertama di Yogyakarta itu sebelumnya merupakan kantor redaksi harian Tribun Jogja. Sejumlah pernik dari bangunan lama masih dipertahankan sehingga menambah kesan desain industrial di tempat itu.
Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas Tri Agung Kristanto mengungkapkan, Rumah Sangrai Kopi Nako merupakan gerai keempat Kopi Nako yang bekerja sama dengan Kompas. Tiga gerai sebelumnya berada di Surakarta, Surabaya, dan Malang.
”Konsep yang dikembangkan di Yogyakarta juga bekerja sama dengan Toko Buku Gramedia, yakni community (komunitas) dan educational (pendidikan) cafe,” ujar Agung. Rumah Sangrai Kopi Nako Yogyakarta pun dilengkapi dengan perpustakaan dan Pusat Informasi Kompas (PIK). Melalui PIK, pelanggan bisa mengakses kliping digital pemberitaan Harian Kompas sejak pertama terbit tahun 1965 hingga sekarang.
Selain nongkrong sambil ngopi, pengunjung tempat itu dapat mempelajari proses pengolahan biji kopi serta menggali bermacam informasi di PIK. Pengunjung dapat pula mengenal penerapan nyata dari hasil pengolahan limbah plastik untuk mempercantik tempat usaha.
Kategori Berita
Berita Lifestyle & Komunitas Lainnya
Ini 12 Aturan Penting di Dapur Restoran Menurut Chef Professional
10 Pertanyaan Interview Chef dan Contoh Jawabannya
16 Pertanyaan Interview Barista yang Sering Ditanyakan
13 Pertanyaan Interview Barista Beserta Contoh jawabannya!